Posts Tagged ‘Cuma sekeping 500 perak’

Hari Minggu, setelah berponsel ria, akhirnya aku bertemu dengan teman seperjalanan & se-workshop merajut di Jakarta dengan kereta Karawang-Jakarta.
Setelah ‘kondektur’ memeriksa karcis kami, dek Tinuk menanyakan harga tiket.
” Laahhh..itu di tiket tercantum, Dek “. Jawabku.
” Tadi aku bayar pake duit sepuluh ribuan, mbak…nih, kembaliannya cuma….” dek Tinuk memperlihatkan selembar 5 ribuan & sekeping logam 500 perak.
” Mungkin karena terburu-buru, kau tak cek kembaliannya, Dek. ” Kataku mengingatkan kejadian menjelang kereta berangkat tadi pagi. Dek Tinuk terlambat datang ke stasiun, terburu-buru membeli tiket, lalu bertelepon ria denganku yang terlebih dahulu ‘nangkring’ di gerbong ke-2.
” Hhhhhh…iya, kalee, mbak…ato’ pas lagi nyari ribuan or 2 ribuan, aku keburu naik kereta. ” Aku hanya mengangguk.

Seorang pria berusia sekitar 60 tahunan yang duduk di depan kami menimpali.
” Saya pernah ribut dengan petugas tiket kereta hanya karena 500 perak, dek.” Katanya.
” Lah, kok, bisa, Pak ? ” tanyaku tertarik mendengar ceritanya.
” Saya sering naik kereta, kok, y, sering receh 500 perak lupa, kelupaan atau sengaja dilupakan ?? untuk dikembalikan.” Aku dan Dek Tinuk nyengir kuda. Mengingatkan kejadian yang menimpa Dek Tinuk yang ‘kurang’ 2000 perak uang kembaliannya.

” Yah, kami berpikir positif aja, Pak. Barangkali tadi karena terburu-buru, Saya gak menghitung uang kembaliannya, si petugas juga gak sempet teriak memanggil karena dah kabur duluan. ” Kata Dek Tinuk. Aku mengangguk menyetujuinya.

” Semoga saja demikian. ” Kata Bapak tua sambil tersenyum tulus. ” Kalo memang gak sengaja, seharusnya sudah dipersiapkan uang receh, dipisahkan antara uang puluhan, ribuan dan seterusnya. Kan dia kerja bukan sehari dua hari…mungkin bertahun-tahun. ”
” Coba bayangkan, Dek, kalo tiap hari dia sengaja ‘lupa’ mengembalikan 500 perak. Kali beratus-ratus penumpang kereta di stasiun kita itu. Berapa jumlahnya ??? Oke, kita gak usah menghitung jumlah, tapi misalnya uang tersebut dibawa pulang ke rumah. Diberikan ke istrinya, lalu si istri memberikannya ke anak sebagai uang jajan, bekal sekolah dan sebagainya. Artinya ??? ”

Aku tercenung.

” Makanya gak heran, sekarang banyak kasus istri selingkuh, anak tawuran di sekolah dan sebagainya. Karena uang yang dimakan belum tentu halal. ” si Bapak tua masih meneruskan ceritanya.

Aku dan Dek Tinuk saling bertatapan dan tersenyum.

” Lah, kalo misalnya Dek Tinuk mengikhlaskan kembaliannya tadi, bagaimana, pak ? ”
Gantian si Bapak Tua itu tersenyum, ” semoga jadi halal, y, Dek. ”

Kami tertawa bareng. Lalu obrolan di Kereta jurusan Karawang-Jakarta pun berlanjut ngalor ngidul.

Cuma sekeping 500 perak, halalkah untuk mendapatkannya ???

Iklan